Meulaboh – Sebanyak 12 mahasiswa Program Studi Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Teuku Umar (UTU), memproduksi pakan ikan pelet hasil formulasi mereka sendiri pada Jumat, 23 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di Laboratorium Produksi Pakan Ikan FPIK UTU sebagai Acara 3 praktikum mata kuliah Nutrisi Ikan. Mahasiswa didampingi langsung oleh dosen pengampu, Khairul Samuki, S.Pi., M.Si., dan laboran Syaprianto.
Praktikum pembuatan dan pencetakan pakan ini merupakan bagian dari rangkaian praktikum eksperimental Nutrisi Ikan. Pada acara sebelumnya, mahasiswa menyusun formula pakan berbiaya terendah dengan tiga taraf protein kasar, yaitu 30, 35, dan 40 persen. Pada Acara 3, formula tersebut diwujudkan menjadi pelet dengan adonan sekitar 10 kg bahan untuk setiap perlakuan.
Produksi mengikuti lima tahap yang diatur dalam modul praktikum:
Penepungan dan pengayakan. Tepung ikan, bungkil kedelai, dan jagung digiling terpisah, lalu diayak. Bagian yang tidak lolos ayakan digiling ulang.
Penimbangan. Setiap bahan ditimbang sesuai kartu penimbangan dengan ketelitian 1 gram dan diperiksa oleh orang kedua.
Pencampuran. Premiks vitamin-mineral diencerkan bertahap agar tersebar merata. Minyak ikan dan air hangat ditambahkan sedikit demi sedikit sampai adonan lolos uji kepal.
Pencetakan. Adonan dicetak dengan mesin pencetak pelet. Mesin dibersihkan di antara perlakuan agar formula tidak tercampur.
Pengeringan. Pelet basah dihamparkan di nampan berlabel dan ditimbang berkala sampai bobotnya konstan.
Selama proses, mahasiswa mencatat parameter produksi seperti susut penepungan, volume air, dan bobot pelet basah dan kering untuk menghitung rendemen. Keselamatan kerja menjadi perhatian utama. Mahasiswa memakai alat pelindung diri, mendorong adonan dengan pendorong kayu, dan menerapkan prosedur penguncian mesin (LOTO) sebelum membersihkan mesin.
Khairul Samuki menjelaskan bahwa praktikum ini dirancang dengan pendekatan experiential learning. Mahasiswa tidak hanya menghitung formula, tetapi juga mengalami sendiri tantangan mewujudkannya.
“Formula yang disusun mahasiswa pada dasarnya adalah hipotesis. Di ruang produksi, mereka melihat langsung bahwa adonan yang terlalu kering, terlalu basah, atau tidak homogen menghasilkan pelet yang berbeda dari yang dibayangkan. Pengalaman inilah yang ingin kami bangun,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterampilan memproduksi pakan dan menilai mutunya merupakan bekal penting bagi lulusan akuakultur. Pakan menyumbang porsi terbesar biaya produksi budidaya ikan, sehingga kemampuan membuat pakan mandiri yang bermutu dan efisien sangat dibutuhkan pembudi daya.
Pelet yang dihasilkan selanjutnya akan diuji mutu fisiknya pada Acara 4. Pengujian meliputi keseragaman ukuran, persentase debu, stabilitas dalam air, daya apung, dan biaya pakan per kilogram. Pakan komersial ikut diuji sebagai pembanding.
Setelah itu, ketiga pakan diuji secara biologis pada benih ikan nila di Laboratorium Basah (Hatchery) FPIK UTU selama 42 hari. Percobaan memakai rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Mahasiswa akan menghitung laju pertumbuhan, rasio konversi pakan, kelangsungan hidup, dan biaya pakan per kilogram pertambahan bobot ikan.
Rangkaian praktikum ditutup dengan seminar hasil. Pada seminar ini, setiap kelompok menyusun formula generasi kedua berdasarkan data yang mereka kumpulkan sendiri.